Eits… Jangan berprasangka buruk dulu teman-teman. Judul diatas bukan sebuah provokasi atau mengajak anda untuk menganggap bahwa kuliah itu tidak penting sehingga anda berpikir tidak perlu kuliah.. Atau sebaliknya anda yang sudah berkuliah tiba-tiba memutuskan untuk men “DO” kan diri. Tetapi saya mendukung apabila anda mau DO asalkan memiliki alasan yang jelas dan anda bertanggung jawab terhadap konsekuensinya. Konsekuensi untuk harus sukses tentunya.

Sebenarnya saya merasa tersindir dengan dunia pendidikan kita saat saya menonton sebuah film India yang berjudul “3 Idiots”. Mungkin teman-teman sudah ada yang menontonnya? Kalau belum, saya sangat merekomendasikan teman-teman untuk menontonnya. Dimana di film tersebut mengajarkan saya  bahwa di kuliah ada hal yang harus dikejar selain nilai A,B,C,D,dan E atau nilai IPK diatas 3. Namun ilmulah yang harus dikejar BUKAN NILAI. Namun tampaknya saat ini nilai itu sudah bergeser pada dunia pendidikan di negeri ini. Dimana banyak  saat ini para pelajar atau mahasiswa yang sangat mendewakan arti sebuah nilai. Seolah-olah nilai raport atau nilai IPK adalah sebuah harga mati untuk kesuksesan. Tidak heran banyak orang mau melakukan apa saja, bahkan menghalalkan segala cara hanya  agar mendapatkan nilai yang bagus. Bahkan yang lebih tragis lagi sering kita dengar di berita televisi atau surat kabar ada pelajar atau mahasiswa yang mencoba bunuh diri hanya karena mendapat nilai yang jelek atau karena tidak lulus ujian.

Nah apa yang terjadi kalau dalam pendidikan semua berorientasi pada nilai?? Yah hasilnya terlihat sangat jelas, mungkin teman-teman dapat melihat di sekeliling anda sendiri setiap orang berlomba-lomba untuk mengejar nilai yang bagus tanpa memperdulikan cara yang ditempuhnya halal atau tidak. Seperti saat menjelang ujian contohnya, saya sering melihat para teman-teman mahasiswa yang lebih sibuk mempersiapkan contekan dan salinan catatan dibandingkan membaca buku atau materi yang akan diujikan. Bahkan mencontek dan plagiat sudah dianggap budaya dan menjadi hal yang wajar saja untuk dilakukan. Bahkan yang menggelikan teman saya sendiri yang berkata “Kalau zaman sekarang tidak mencontek, sulit rasanya untuk mendapat nilai yang bagus”. Bahkan kebetulan belum lama ini di kampus saya diadakan acara seminar yang membahas bahaya mencontek, plagiat, dan kecurangan dalam dunia pendidikan. Dan saat saya sedang membaca baligo yang menginformasikan acara tersebut, seorang teman menyeletuk “Ah, munafik banget sih yang ngebuat acara ini! Kayak dia tidak pernah mencontek saja!” Duh.. Rasanya panas hati ini mendengar celetukan teman tersebut. Dalam hati ini bertanya, “Apakah memang kejujuran benar-benar menjadi sebuah harga yang sangat mahal di negeri ini?”

Sekarang saya menjadi bertanya-tanya apa ya yang salah dalam pendidikan di negeri kita? Apakah sistemnya yang salah, atau memang orang-orang yang berada dalam sistemnya yang salah? Lalu apa yang bisa diharapkan oleh negeri ini kepada generasi mudanya apabila setiap tahunnya setiap universitas menelurkan ribuan sarjana yang ternyata hasil didikan system yang seperti tadi. Sudah bisa ditebak bagaimana kualitas para sarjana-sarjana tersebut. Yang membanggakan diri dengan predikat Cum Laude nya dengan nilai IPK yang tinggi namun ternyata kepalanya kosong akan ilmu dan lebih tragisnya lagi ujung-ujungnya hanya menjadi orang yang menambah daftar pengangguran di negeri ini.

Saat saya menulis tulisan ini bukan berarti saya adalah orang yang pintar. Saya bukanlah seorang mahasiswa teladan yang dikenal pintar dan rajin di kampus. Bukan juga seorang mahasiswa yang dikenal para dosen di kampus karena keaktifan dan prestasinya di kampus. Nilai akademis saya juga biasa-biasa saja dan mungkin jauh dari angka yang bisa dibanggakan. Namun setidaknya saya bisa berbangga karena saya mendapatkan nilai yang seadanya itu dari kerja keras sendiri. Dan saya bersyukur karena saya dulu memutuskan untuk meneruskan pendidikan ke bangku kuliah. Karena hasil dari keputusan tersebut saya bisa menjadi diri saya yang sekarang. Saya bisa bertemu dengan banyak orang-orang hebat yang menjadi guru dan mentor saya di universitas kehidupan. Dan karena saya dulu memutuskan untuk kuliah pulalah sehingga saya dapat bertemu dengan sahabat-sahabat terbaik yang tak henti-hentinya memberikan motivasi dan inspirasi dalam memaknai kehidupan. Juga karena saya memutuskan untuk kuliah pulalah yang membuat saya memiliki pengalaman hidup yang luar biasa dan membentuk diri saya hingga seperti sekarang ini.

Teman-teman yang baik, saya disini bukanlah orang yang sok bijak mengajari tentang makna hidup dan pandangan mengenai pendidikan. Tapi saya ingin mengajak anda semua untuk lebih bijak dalam mengambil kesimpulan, bahwa nilai bukanlah harga mati sebuah kesuksesan. Karena sekolah atau kuliah hanyalah salah satu cara untuk berhasil dalam menempuh ujian, namun pengalaman hidup dan pergaulanlah yang menentukan apakah kita mampu lulus dari ujian yang sesungguhnya, yaitu ujian kehidupan.

So, Jangan mau Kuliah kalau hanya untuk mengejar nilai!!!

Iklan